Dari mana aku harus mulai mengisahkan...
Sesaat hadirnya pada tiupan angin january dan berlalu saat hembusan nuansa kering mulai tiba. Waktu mendesir kian cepat, tatkala kutemukan bahwa setiap kata yang pernah tersematkan dijantungku tak lagi bernyawa, dan bahkan sebuah berita tentang seorang kawan baru yang menitipkan sehelai kata berkelopak mawar disela surat tak berwarna yang ditulis dalam gesa hanya melintas tak berbekas.
Namun aku harus terus menjelma menjadi batu yang teramat melengkingkan, kesakitan dan sedikit tetes merah serupa air mata menyimpan amarah pada pori-pori beku batunya.
Bukankah cinta suatu paksaan sederhana?...
Maka tersenyumlah di atas angin dahi yang membara, sebab waktu telah mengantarkannya kembali pada musim dingin yang tak kunjung usai yang hanya menyisakan suatu kepolosan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar